Asyiknya Menulis Biografi

10:09:00 AM Diposkan oleh Subhan Afifi

Tanpa sengaja, saya mulai jatuh hati dan menekuni penulisan Biografi sejak tahun 2010. Ketika itu, Bapak Ir H.Novizar Zen, Ketua Yayasan Ibrahim Musa yang menaungi Sumatera Thawalib Parabek, meminta saya menulis biografi pendiri pesantren terkenal di Sumatera Barat, Syekh Ibrahim Musa. Setelah buku itu benar-benar terbit dan dilaunching oleh Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno, saat peringatan 100 tahun lembaga Islam itu di Bukittinggi, ada rasa dan asa yang membuncah dalam hati. Bahwa, menulis biografi akan saya jadikan sebagai salah satu jalan untuk berkarya. Berbagi inspirasi, untuk kehidupan yang abadi, tentu saja.

Buku biografi pertama yang saya tulis itu rupanya menarik perhatian Ibu Dra Nani Arifah, seorang aktivis sosial di Jakarta, yang tak lain isteri Bapak Novizar Zen. Menurutnya perjalanan hidup suami tercintanya juga menarik untuk menjadi inspirasi bagi orang lain. "Minimal untuk anak-anak kami,"katanya. Novizar Zen adalah seorang profesional teknik kimia yang berkecimpung di dunia perminyakan, tetapi juga aktif dalam dunia sosial dan dakwah Islam. Menggerakkan pendidikan Islam berkualitas melalui Yayasan As-Shofa di Pekanbaru dan Madrasah Thawalib Parabek di tanah kelahirannya, Bukittinggi, adalah contoh sumbangsihnya. Menurut Ibu Nani, jejak hidup sosok suaminya itu unik dan menarik, sejak masa kecil di Bukittinggi, kuliah di Teknik Kimia UGM, hingga berkarir di dunia perminyakan, dan berjibaku dalam aktivitas sosial. "Saya ingin memberikan kejutan pada ulang tahunnya yang ke 50 dengan sebuah buku yang berkisah tentang perjalanan hidupnya," kata Bu Nani suatu ketika di tahun 2010 kepada saya. Diam-diam ia mengumpulkan berbagai bahan tentang suaminya itu sejak kecil, termasuk meminta saya mewawancarai para kolega dan kerabat suaminya itu. Draft buku biografi dalam bentuk sample jadi 2 eksemplar ini akhirnya sampai ke tangan Bapak Novizar Zen. Ia surprise dengan buku itu. Ia pun setuju, ketika isterinya meminta izin untuk menerbitkan buku itu, dengan tujuan berbagi inspirasi kepada siapa saja, secara lebih luas.  Maka terbitlah buku itu, "Novizar Zen : Jejak Cinta Menggapai Kebahagiaan Sejati", tahun 2011.
 
Terbitnya buku biografi yang ke-2 itu, kembali membuka jalan bagi saya untuk menulis buku berikutnya. Bapak Novizar Zen berfikir untuk menulis profil dan sejarah sekolah Islam As-Shofa yang diasuhnya. Sekolah Islam As-Shofa, dari tingkat TK,SD, SMP dan SMA, adalah salah satu institusi pendidikan terkemuka di Pekanbaru. Kisah perjalanan As-Shofa dari sebuah ruang pinjaman di lantai 2 sebuah masjid, dan gedung sekolah darurat yang disebut pengelolanya sebagai mirip "kandang kambing" hingga kini menjadi sekolah unggulan dengan kampus megah dan representatif dengan sederet prestasi, ingin ditulis dalam sebuah buku yang enak dibaca dan perlu. Saya pun diminta ke Pekanbaru, mengumpulkan bahan-bahan, mewawancarai banyak tokoh dan narasumber, hingga akhirnya buku itu benar-benar terbit pada bulan Mei 2011. Buku berjudul "As-Shofa : the School for the Future Winners, Kisah Perjalanan Sekolah yang Mendidik dengan Keunggulan untuk Memenangkan Masa Depan", dilaunching 2 Mei 2011, dalam sebuah acara semarak di Pekanbaru, menandai 20 tahun perjalanan sekolah itu.

Pengalaman menulis 3 buku biografi dan profil lembaga itu semakin memantapkan saya untuk terus belajar tentang penulisan biografi dan InsyaAllah akan menekuninya secara profesional. Sebagai pekerjaan selingan, selain mengajar di program studi Ilmu Komunikasi UPN "Veteran" Yogyakarta, saya merasakan asyiknya menulis biografi. Berjumpa dan berbincang dengan beragam tokoh yang menginsipirasi, mengunjungi berbagai tempat yang belum terinjak sebelumnya, menelusuri jejak sejarah, hingga mendapatkan tambahan penghasilan yang lumayan... Hehehe. (Biasanya orang yang memesan atau ingin dituliskan biografinya telah menyediakan dana yang relatif besar, sehingga penulis biografi akan dihargai secara pantas. Biasanya juga dibayar di depan, atau setelah buku selesai. hehe.)    

Di tahun 2012, seorang kawan menghubungi saya untuk menuliskan perjalanan hidupnya. "Saya ingin buku itu dibagikan saat saya ujian terbuka Doktor," begitu kira-kira katanya kepada saya ketika itu. Sukamta, seorang anak desa miskin dari Bayat Klaten, memang dikenal berkemauan keras.  Tidak menyerah pada keadaan, dengan dendam positif pada kemiskinan, membuatnya berjuang keras menembus batas. Dari seorang buruh pabrik konveksi di Jakarta, ia berjuang menggapai gelar dokor di UGM. Alhamdulillah, buku itu benar-benar terbit saat Sukamta dinyatakan lulus sebagai doktor bidang Teknik Mesin di UGM, Senin, 27 Februari 2012. "Sukamta : dari Buruh Pabrik ke Doktor Mesin," judul buku itu. Dari proses menulis buku dalam waktu yang relatif singkat itu, saya juga belajar banyak dari Pak Kamto, begitu ia akrab dipanggil. Bahwa aneka ragam keterbatasan tidak seharusnya menjadi alasan untuk gagal meraih hak menjadi orang sukses.

Kini, di paruh waktu 2012, beberapa agenda penulisan biografi sudah tercatat dan ingin segera dituntaskan. Dari menulis biografi seorang politisi yang jadi anggota DPD RI, hingga berinisiatif untuk menulis biografi tokoh-tokoh ulama besar dunia Islam. Termasuk mengembangkan "Biograf Media". Wadah untuk sharing, mengembangkan ilmu penulisan biografi, hingga menerbitkan buku biografi. "Biograf Media", saya gagas dengan seorang sahabat, Bastian Yunariono, M.Si, dosen di jurusan Hubungan Internasional UPN "Veteran" Yogyakarta. Ada yang mau gabung, bareng-bareng belajar nulis biografi? Monggo, kita bisa berbagi makna dan inspirasi ! (**Subhan Afifi)


Materi Kuliah Manajemen Media

12:56:00 PM Diposkan oleh Subhan Afifi

Bagi peserta mata kuliah Manajamen Media, Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP UPN "Veteran" Yogyakarta, materi kuliah dapat dilihat di : http://www.slideshare.net/subhanafifi

Selamat belajar !

Ayah Sesaat

3:01:00 PM Diposkan oleh Subhan Afifi

Seorang ayah pulang kerja di suatu sore yang masih terasa gerah. Hari yang melelahkan. Ada asa untuk segera menyegarkan jiwa di rumah yang penuh cinta. Terbayang celoteh riang anak-anak dan senyum manis bundanya. Untuk menyenangkan mereka, sang ayah mampir membeli sate ayam istimewa. Rupanya, hari itu yang di rumah sedang tidak enak hati. Kerewelan anak-anak balitanya sedang memuncak. Ketika bungkus sate dibuka, puteri cilik yang biasanya seperti bidadari itu tampak tak berkenan. Ia rupanya kecewa, sate yang dibawa sang ayah berbeda dengan sate kesukaannya. Tanpa ba-bi-bu, dia meludahi sate itu..”Cuihhh !”.

Sontak saja, laki-laki yang baru belajar jadi ayah itu tersulut. Dan..tanpa ba-bi-bu juga, dengan cepat telapak tangan kerasnya mendarat di pipi mungil si kecil. “Plakk !” Tangis keras pun melengking. Masih terlihat dada sang ayah turun naik menahan amarah. Tetapi semburat sesal segera menyeruak. Bukankah ia biasanya tidak pernah “bermain tangan” di rumah? Bukankah makna “meludah” berarti penghinaan luar biasa yang dipahaminya sebagai manusia dewasa 30-an tahun berbeda dengan arti “meludah” bagi si kecil 3 tahunan itu? Tak seharusnya “ketidaktahuan” si kecil berbalas tamparan yang menyakitkan. Tak hanya pipi, tapi juga jiwanya. Segurat luka dalam hati telah tertoreh. Berbuah sesal yang terlambat. Sesaat saja.

Ayah lain, kebetulan seorang sahabat dekat, berkisah tentang pengalamannya berhaji. Saat wukuf di padang Arafah, sebagai puncak haji, biasanya para jamaah haji akan menangis mengingat dosa-dosa yang pernah dilakukan. Sambil tak henti-hentinya beristighfar dan memanjatkan do'a. “Saya menangis, karena ingat anak saya…” katanya. Inilah bentuk dosa yang paling dia ingat di Arafah. Suatu hari, dia pernah pernah sangat marah pada anaknya. “Nangis nggak diam-diam, saya seret dia ke kamar, saya kunci dari luar,” kisahnya Tentu saja si anak menambah volume tangis sekeras-kerasnya. Sampai akhirnya benar-benar diam karena kecapekan dan dicuekin ayahnya. “Saya sungguh menyesal,” katanya mengenang.

Ah.. 2 contoh itu bikin saya malu. Inilah gambaran dunia para ayah, termasuk saya, walau tidak semua tentu saja, yang mudah tersulut. Dunia para lelaki yang katanya lebih mendahulukan rasio daripada rasa. Untuk kasus ini rasio dan rasa, rupa-rupanya sama-sama tidak dikedepankan. “Orang tua semacam ini memiliki sumbu pendek, sehingga cepat terbakar tanpa sempat berfikir,” tulis Ustadz Fauzil Adhim, dalam bukunya “Saat Berharga untuk Anak Kita”, terbitan Pro-U Media Yogyakarta (2009). Menurutnya, “Orang Tua Sumbu Pendek” cepat tersulut emosinya karena ada hal-hal yang kurang menyenangkan dari anak. Mereka cepat melampiaskan kemarahan hanya karena kejadian-kejadian kecil, tanpa berusaha mengendapkan terlebih dulu untuk mencari jalan paling jernih. Tidak menunggu waktu lama untuk mencubit anak dengan keras, bahkan “menampar” seperti ayah pertama tadi, membelalakkan mata secara menakutkan, atau segera menghujani anak dengan kata-kata makian dan umpatan. “Begitu anak melakukan sedikit kesalahan, atau bahkan belum tentu merupakan kesalahan, seketika itu pula orang tua menyerangnya dengan kata-kata ancaman, cap yang buruk atau pertanyaan yang memojokkan.” tulis Ustadz yang dikaruniai 7 anak itu. “Orang tua sumbu pendek !” sebutan yang “menampar” para orang tua, termasuk saya, tapi bukan tamparan yang menorehkan luka di hati tentu saja.

Saya jadi ingat 3 permata hati saya yang hebat-hebat : Azzam Abdussalam (10 tahun), Zulfa Athifah (9 tahun) dan Nuha Qonitah (6 tahun). Sehari-harinya mereka sangat manis dan pintar. Sesekali saja, seperti lazimnya anak-anak lain, ada perilaku mereka yang bikin gerah. Berkelahi khas anak-anak, tidak bersegera mengerjakan apa yang diperintahkan, atau hal-hal sepele yang sepele lainnya, yang belum tentu merupakan kesalahan. Tapi inipun seringkali saya tanggapi secara berlebihan. “Abi sering marah !” kata Zulfa, puteri kecil saya yang sering bicara kritis dan blak-blakan, dalam sebuah perbincangan santai di ruang keluarga, saat saya minta mereka untuk “mengevaluasi” saya. “Masa' sih..” kata saya menggoda Zulfa, sambil tetap merasa sebagai ayah tersabar di dunia, hahaha. “Iya.. sedikit..sedikit marah, salah sedikit marah,” katanya tak kalah tangkas. Saat itu rasa-rasanya Zulfa sedang “menampar” saya. Benar adanya. Hanya karena “sumbu yang tak panjang”, saya mudah tersulut. Maka muncullah gejala-gejala yang dirasakan Zulfa dan kakak-adiknya mungkin, sebagai amarah. Mulai dari suara yang meninggi hingga mimik wajah yang menyeramkan.

Duh.. ada segenggam rasa malu di sana. Apalagi mengingat pesan Sang Nabi ketika seorang laki-laki berkata-kata : “Ya Rasul Allah, berpesanlah kepadaku.” Nabi Saw berpesan, “La taghdab ! Jangan Marah.” Laki-laki itu bertanya berulang-ulang, tetapi Nabi Saw, tetap berpesan berulang kali pula, “La taghdhab ! Jangan Marah.” Hadist riwayat Buchari itu dikutip juga oleh Ustadz Faudzil sambil menguraikan dengan bahasanya yang cair, mengalir dan akrab, tentang beda “marah” dan “memarahi”. “Memarahi” anak, sebagaimana senyuman yang damai, seringkali diperlukan. Itu pun harus dilakukan secara bijak. “Cara Bijak Memarahi Anak” adalah salah satu tips Ustadz Faudzil yang menginspirasi ya. Hehe..bisa juga ya, memarahi dengan bijak. Alih-alih menebar ancaman, sebaiknya para orang tua mengajarkan konsekuensi pada anak. Sangat sering kita memarahi anak disertai ancaman : “Awas ya..! Kalau ..bla..bla...”. Padahal ancaman hanya membuat mereka untuk berlajar berontak dan menentang. Apalagi jika kegiatan memarahi itu diikuti dengan ungkapan-ungkapan yang meruntuhkan konsep diri dan harga diri (self esteem) anak, seperti : “Ayah kan sudah bilang berkali-kali... kamu koq masih nakal terus !”. Memberikan penjelasan dan konsekuensi dalam suasana yang akrab untuk membenahi perilaku anak yang tidak menyenangkan jelas lebih positif. “Jangan cela dirinya, cukup perilakunya saja !” dan “Jangan katakan Jangan”, adalah nasihat-nasihat Ustadz Faudzil yang menyejukkan di buku itu.

Selain bicara hal teknis semisal bagaimana menghukum dengan kasih sayang, buku ini juga memberikan panduan berharga yang bersifat mendasar dalam dunia pendikan anak seperti memperbaiki niat, membangun jiwa anak, berusaha memahami anak dengan “menitip rindu untuknya”, hingga bagaimana mempersiapkan masa depan mereka dengan warisan yang sesungguhnya, berupa iman dan takwa, seperti yang dilakukan Lukman Al Hakim. Seorang tukang kayu yang karena kebijakannya mendapat kehormatan dari Allah untuk menjadi teladan bagi manusia dengan menyebut nama dan nasehat berharga untuk anak-anaknya dalam Al-Qur'an.

Selain seperti “menampar” saya sebagai orang tua yang terkadang masih memiliki kebiasaan mudah marah dan tersulut, buku ini memberikan energi untuk bangkit dan bergegas, memanfaatkan waktu yang tersisa. Sungguh, seperti yang ditulis Ustadz Faudzil, waktu kita sangat pendek. Anak-anak kita yang saat ini masih balita tak akan lama lagi tumbuh menjadi remaja, dan dewasa. Saat ini mereka butuh kita, ingin ditemani, diajak ke sana kemari. Tapi lihat lah beberapa saat lagi. Betapa banyak anak yang untuk berjalan bersanding dengan orang tuanya saja, merasa malu. Ustadz Faudzil Adzim menggambarkan fenomena ini dengan untaian kata-katanya yang indah dan bergizi :


“Hari ini mereka memerlukan kita. Hari ini mereka amat besar kerinduannya kepada kita. Di antara mereka mungkin ada yang belum kering airmatanya karena berharap bisa bercanda, tetapi bapaknya sudah bergegas pergi untuk merebut sebuah kata yang bernama sukses. Mereka berlelah-lelah atas nama anaknya, padahal anaknya sedang kelelahan karena menunggu kesempatan untuk bermain bersama bapaknya. Mereka ingin berbincang dan bercanda, meski hanya sebentar. Dua menit saja...
Ya..ya..ya selagi mereka belum dewasa, belum menginjak usia remaja, inilah saat berharga untuk kita. Inilah saatnya kita meluangkan waktu kita untuk menyapa mereka, sebentar saja. Inilah saatnya bagi kita untuk mengisi ruang jiwa anak-anak kita....”

Tiba-tiba saya juga  teringat dengan seorang keponakan saya yang manis. Riska Milsa Khalida namanya. Rasanya, baru kemarin-kemarin saja, saya mengajaknya bercanda karena tingkah polahnya yang lucu saat balita. Belum lama berselang, Riska diwisuda dari Teknik Perminyakan Insitut Teknologi Bandung. Waktu memang berjalan begitu cepat. Si kecil yang lucu dan imut-imut itu “tahu-tahu” berangkat dewasa dan jadi sarjana. Ketika ia saya minta untuk menuliskan apa yang paling berkesan dari Papa-nya, yang super sibuk dan seorang profesional bidang kimia dan perminyakan, Riska menulis via email :

Papa adalah sosok yang penyayang kepada anak-anaknya. Waktu kami kecil, walaupun pulang kerja papa udah capek banget, tapi kami anak-anaknya yang masih kecil selalu minta diajakin jalan-jalan sama Papa keliling kompleks dan didongengin biar bisa tidur. Dengan bersemangat Papa langsung ngajak kami jalan-jalan dengan mobilnya dan juga bercerita hingga kami tertidur. Jadi setiap Papa pulang kami selalu teriak “Papa pulaaaang..Papa pulaaaaang !”…Kalo lagi gak nafsu makan, seneng kalo minta suapin ke Papa..diguntingin kuku sama Papa..Kalo mau berangkat sekolah, ngeliat rambut gak rapi, adik-adik pasti disisirin Papa. Papa juga yang ngajarin kami (semua anak-anaknya) penjumlahan, perkalian, kimia dasar, semuanya deh..kecuali ilmu agama. Kalo ilmu agama diajarinnya sama mama..hehe.
....................
Terimakasih Papa, atas kasih sayang yang Papa berikan kepada Mama dan anak-anak Papa. Kasih sayang dan semua yang Papa berikan sangat kami teladani hingga hari ini dan nantinya jika kami berkeluarga. Mungkin Riska dan anak-anak Papa yang lain sering khilaf dan ngecewain Papa dan Mama. Tapi dari lubuk hati yang paling dalam, kami selalu ingin membahagiakan Papa dan Mama. Membuat papa dan mama tersenyum bahagia. Melakukan yang terbaik yang kami bisa. Papa adalah papa terbaik sepanjang masa !


I love you..so much Papa..

Subhanallah. Ternyata, yang diingat seorang anak pada ayahnya, adalah hal-hal yang kelihatannya “sepele”, tapi begitu dalam maknanya di kemudian hari. Sosok ayah yang super sibuk itu, masih menyempatkan diri untuk mengajak anak jalan-jalan sepulang kerja, walau penat terasa di sekujur tubuh. Masih sempat mendongengi anak sebelum tidur, walau rasa kantuk di mata tak bisa diajak kompromi. Atau sekedar menyuapi, memotong kuku, menyisir rambut,dan menemani belajar. Benar juga kata Ustadz Faudzil : “Saat Berharga untuk Anak Kita !”.

Lagi-lagi, saya diam-diam merasa malu. Rasa-rasanya saya belum banyak berbuat untuk anak-anak saya. Walau hanya sesaat. Seringkali saya tidak terlalu antusias menanggapi cerita-cerita si bungsu saya yang luar biasa, ketika sibuk sendiri dengan pekerjaan yang tak ada habisnya. Atau lebih cepat tertidur, ketika dongeng belum selesai saya kisahkan, ketika ketiganya masih bersemangat ingin mendengar. “Dilanjutkan besuk saja ya...” kata saya yang sudah tak kuat menahan kantuk dan langsung disambut kecewa mereka dengan kata : “Yahhhhh”. Apalagi, tadi, yang diingat oleh Zulfa misalnya, dari saya adalah : “sering marah”, dibanding pengalaman-pengalaman menyenangkan yang bisa membuat mereka bangga punya ayah seperti saya.
Semoga masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri. Saatnya menancapkan niat kuat dalam hati untuk sungguh-sungguh menjadi “Ayah Sesaat”. Ayah yang bisa memanfaatkan waktu, walau sesaat, untuk membangkitkan jiwa mereka dengan hal-hal berguna. Melewatkan masa, sesaat demi sesaat, untuk mereka. Menyiapkan mereka menjadi generasi penyejuk hati yang taat pada Rabb-Nya, dan berguna untuk sesama. Bukan “Ayah Sesat” tentu saja ! (***).

Kisah ini untuk diikutsertakan dalam Lomba Kisah Menggugah Pro-U Media 2010 di http://proumedia.blogspot.com/2010/10/lomba-kisah-pendek-menggugah-pro-u.html

Syekh Ibrahim Musa : Insipirator Kebangkitan

12:21:00 PM Diposkan oleh Subhan Afifi

Selalu ada pelajaran dan insprasi yang membangkitkan jiwa dari para tokoh besar yang pernah lahir di negeri ini. Syekh Ibrahim Musa (Inyiak Parabek), pendiri Madrasah Sumatera Tawalib Parabek, Bukittinggi, Sumatera Barat, adalah salah satunya. Ulama yang dikenal sebagai ahli hukum Islam, pejuang, sekaligus rujukan bagi ulama lain dan panutan masyarakat Minangkabau ini memang telah wafat pada tahun 1963. Tapi, karya nyata dan pengaruh positifnya masih terasa hingga saat ini. Sumatera Thawalib Parabek mulai dirintis pada tahun 1910, sehingga pada tahun 2010 ini genap berusia 100 tahun. Sepanjang sejarahnya sekolah ini telah melahirkan banyak tokoh-tokoh besar di zamannya, seperti Buya Hamka, H.Adam Malik, Buya Ghafar Ismail, H.M Daud Rasyidi Dt Palimo Kayo, Prof Dr Ibrahim Bukhari, KH Gafar Ismail, Prof Dr Hayati Nizar,MA, Prof Dr Amiur Nuruddin, MA dan masih banyak lagi.

Sangat beruntung saya berkesempatan “berkenalan” dengan sosok Inyiak Parabek. Mencoba melacak langsung jejak kehidupannya, menyelami nilai-nilai keshalihan yang masih terekam jelas dalam benak para murid-muridnya, hingga merasakan langsung kehidupan di Sumatera Thawalib Parabek, sebagai warisan beliau, sungguh mencerahkan. Hasilnya, saya coba untuk berbagi dalam buku biografi ini. Sekaligus menjadi buku pertama saya. Lega rasanya. "Telur yang keras" itu pecah juga akhirnya. Betapa telah sejak lama, saya ingin menulis sebuah buku, berkali-kali saya inginkan dan ungkapkan. Baru kali ini bisa terwujud. Alhamdulillah…Hanya Allah Ta’ala yang memberi kesempatan dan kemudahan.

Selama berinteraksi dengan para narasumber dan mengamati langsung berbagai hal yang terkait dengan Inyiak Parabek, saya menangkap semangat luar biasa dari para pengelola Yayasan Syekh Ibrahim Musa, para pimpinan sekolah dan dewan guru, hingga siswa dan masyarakat sekitar untuk tetap memelihara warisan, bahkan membangkitkan kembali nilai-nilai inspiratif yang pernah diajarkan Inyiak Parabek. Istilah mereka dalam pepatah Minang : Mambangkik batang tarandam. Sebuah upaya untuk menghidupkan nilai-nilai luhur dan keutamaan yang semakin lama semakin terkikis. Termasuk upaya untuk bangkit kembali karena sedikit terlena oleh nama besar dan kejayaan di masa lalu. Manusia bisa berganti, Zaman terus berubah. Tapi semangat dan inspirasi akan terus lestari. Saya sampai pada kesimpulan bahwa Inyiak Parabek adalah ulama yang membangkitkan para murid dan masyarakatnya dari kegelapan ketidaktahuan menuju cahaya ilmu, dari ketergantungan menuju kemandirian.

Buku ini berisi jejak kehidupan Inyiak Parabek, inspirasi Inyiak Parabek dalam pendidikan, hingga gambaran komprehensif tentang Sumatera Thawalib Parabek. Sekolah berusia 1 abad yang telah menghadapi beragam dinamika, hingga saat ini. Saat ketika sekolah ini sedang mengobarkan semangat kebangkitan: Menjadi sekolah yang mencetak ulama intelektual. Semoga karya sederhana ini membawa manfaat..!

Media Online Cetak Sejarah Pulitzer

8:15:00 AM Diposkan oleh Subhan Afifi

Jakarta - The Washington Post dan New York Times boleh saja mendominasi penghargaan tahunan jurnalisme Pulitzer. Tetapi yang menarik di tahun ini adalah, untuk pertama kalinya ajang bergengsi tersebut memberikan penghargaan kepada media online.

Sang penerima award tersebut adalah ProPublica, organisasi online non-profit, yang memenangkan penghargaan Pulitzer atas laporan investigasinya mengenai Rumah Sakit New Orleans setelah bencana badai Katrina yang menerjang Amerika beberapa waktu lalu.

Sementara, penghargaan editorial kartun diraih oleh SFGate.com. Berikut adalah para pemenangnya, seperti dikutip detikINET dari BigNews Network, Selasa (13/4/2010):

1. Public Service : Herald Courier Publisher
2. Breaking News Reporting : The Seattle Times Staff
3. Investigative Reporting : Sheri Fink (ProPublica) & The New York Times Magazine, Barbara
Laker & Wendy Ruderman (Philadepia Daily News)
4. Explanatory Reporting : Micheal Moss and friends (The New York Times Staff)
5. Local Reporting : Raquel Rutledge (Milwaukee Journal Sentinel)
6. National Reporting : Matt Richtel and friends (The New York Times Staff)
7. International Reporting : Anthony Shadid (The Washington Post)
8. Feature Writing : Gene Weingarten (The Washington Post)
9. Commentary : Kathleen Parker (The Washington Post)
10. Criticism : Sarah Kaufman (The Washington Post)
11. Editorial Writing : Tod Ronnerson, Colleeb McCain Nelson, dan William McKenzie (The
Dallas Morning News)
12. Editorial Cartooning : Mark Fiore (SFGate.com)
13. Breaking News Photography : Mary Chind of The Des Moines (Iowa)
14. Feature Photography : Craig F. Walker (The Denver Post)
15. Fiction : 'Tinkers' (Paul Harding)
16. Drama : 'Next to Normal"
17. History : 'Lords of Finance: The Bankers Who Broke the World' (Liaquat Ahamed)
18. Biography : 'The First Tycoon: The Epic Life of Cornelius Vanderbilt' (TJ Stiles)
19. Poetry : 'Versed' (Rae Armantrout)
20. General Nonfiction : 'The dead Hand: The Untold Story of the Cold War Arms and Its
Dangerous Legacy' (David Hoffman)
21. Music : Violin Concerto (Jennifer Higdon)
22. Special Citation : Country Music Pioneer (Hank Williams)

Sumber : detik.com