Bermula dari Niat
4:04:00 PM Diposting oleh Subhan Afifi
Ketika menyusuri jalan panjang Jeddah-Madinah, Januari lalu, saya membayangkan betapa beratnya perjalanan hijrah dari Mekkah ke Madinah yang ditempuh Rasululloh SAW dan para sahabatnya. Padang pasir yang super panas dan gersang terlihat sejauh mata memandang. Perjalanan dengan bis nyaman ber AC sejuk saja terasa lama dan membosankan, apalagi perjalanan dengan berjalan kaki atau naik onta, seperti mereka, orang-orang terbaik sepanjang masa itu. Selain alam yang ganas, mereka masih dibayang-bayangi para musuh yang beringas dan siap membunuh. Hanya keimanan yang tinggi dan harapan akan kehidupan nikmat sesudah kematian saja yang bisa mengalahkan segala kesulitan.
Tapi tunggu, saya teringat dengan sebuah hadist terkait peristiwa hijrah :
“Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung niatnya. Dan bagi setiap orang, apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu ke arah (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang berhijrah karena dunia (harta atau kemegahan dunia), atau karena seorang wanita yang ingin dikawininya, maka hijrahnya seperti yang ia niatkan.”
Subhanallah, perbuatan boleh sama, kesulitan yang dihadapi serupa, tapi hasilnya bisa berbeda 100 %. Ternyata tak semua yang berhijrah itu benar-benar mengharap ridho Allah. Ada juga yang menempuh segala kesulitan hanya karena ingin jadi lebih kaya. Bahkan ada karena ingin mengawini pujaan hati. Duh.. sesuatu yang manusiawi, tapi sangat fatal akibatnya.
Tapi tunggu, saya teringat dengan sebuah hadist terkait peristiwa hijrah :
“Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung niatnya. Dan bagi setiap orang, apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu ke arah (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang berhijrah karena dunia (harta atau kemegahan dunia), atau karena seorang wanita yang ingin dikawininya, maka hijrahnya seperti yang ia niatkan.”
Subhanallah, perbuatan boleh sama, kesulitan yang dihadapi serupa, tapi hasilnya bisa berbeda 100 %. Ternyata tak semua yang berhijrah itu benar-benar mengharap ridho Allah. Ada juga yang menempuh segala kesulitan hanya karena ingin jadi lebih kaya. Bahkan ada karena ingin mengawini pujaan hati. Duh.. sesuatu yang manusiawi, tapi sangat fatal akibatnya.
Semua memang bermula dari niat. Niat dalam hati. Hanya kita dan Allah yang tahu, apa niat kita melakukan segalanya selama ini. Untuk apa sih kita bersusah payah bekerja, jungkir balik seharian, mengejar sesuatu habis-habisan, atau buat yang sedang belajar, kuliah mati-matian? Kalau niatnya hanya untuk dunia, (materi, pujian, atau segala sesuatu yang akan kita tinggalkan) semuanya memang akan kita dapatkan. Tapi betapa ruginya. Seharusnya, segalanya kita niatkan untuk ibadah kepadaNya, mencari keridhoanNya. Dunia dan segalanya akan mengikuti, kalau ridho Allah yang jadi tujuan. Sudah selayaknya niat dibenahi, agar semuanya bermakna, hingga di surga nanti.(***Subhan Afifi)
Komunikasi Kontempoter & Perkembangan Teknologi Komunikasi
7:08:00 AM Diposting oleh Subhan Afifi
Komunikasi Kontemporer adalah salah satu mata kuliah wajib yang diajarkan di Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UPN “Veteran” Yogyakarta. Mata kuliah ini membahas isu-isu komunikasi terbaru yang sedang menjadi perbincangan hangat di dunia komunikasi. Pembahasannya dapat dikaitkan dengan teori, hasil penelitian maupun analisis perkembangan terbaru fenomena komunikasi. Mahasiswa yang mengikuti matakuliah ini diharapkan akan memiliki kemampuan analisis yang baik, selain mampu menulis sebuah artikel ilmiah yang berkualitas. Harapannya, ketika menulis skripsi nanti, mahasiswa tidak lagi kesulitan, karena telah memiliki bekal yang cukup. Mata kuliah ini dilaksanakan dengan sistem diskusi karena menerapkan pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa (student centered learning). Mahasiswa akan aktif mengeksplorasi sumber pembelajaran dan mendiskusikannya di kelas.
Electronic Public Relations
Pencitraan Indonesia di Luar Negeri
Manajemen komunikasi bencana
Stategi Komunikasi Kebijakan Publik
Personal Branding Elit Politik
Electronic Government
Eksistensi Media Cetak di Era Digital
Pornografi di Internet
Cyber Crime
Media dan Terorisme
Media dan Konflik Keagamaan
Media dan Irasionalitas Masyarakat
Media dan Isu Lingkungan
Propaganda Media Barat terhadap Islam
Jurnalisme Damai
Jurnalisme Infotainment
Televisi dan Budaya
Televisi, Kekerasan dan Anak-Anak
Etika Jurnalistik Televisi
Komunikasi Pendidikan
Regulasi Telekomunikasi
Film dan Identitas
Etika periklanan
Semiotika Grafiti
Selanjutnya, mahasiswa akan menulis salah satu topik tersebut menjadi sebuah artikel ilmiah. Mahasiswa akan mengeksplorasi data dan referensi terkait topik yang dipilih. Selama proses penulisan artikel ilmiah itu, ide dan analisis mahasiswa yang terkait dengan topik penulisan, atau topik-topik lain dalam bidang komunikasi, saya minta di publikasikan di blog masing-masing.
Saya, yang sudah 2 tahun tidak mengajar karena sedang tugas belajar, pada semester pendek kali ini, diminta jurusan mengampu mata kuliah ini. Pada pertemuan pertama, Rabu (25/6), mahasiswa saya minta untuk mendiskusikan tema-tema komunikasi yang menurut mereka menarik dan sedang menjadi fenomena relatif baru saat ini. Beberapa topik komunikasi kontemporer yang dimunculkan mahasiswa adalah :
Pencitraan Indonesia di Luar Negeri
Manajemen komunikasi bencana
Stategi Komunikasi Kebijakan Publik
Personal Branding Elit Politik
Electronic Government
Eksistensi Media Cetak di Era Digital
Pornografi di Internet
Cyber Crime
Media dan Terorisme
Media dan Konflik Keagamaan
Media dan Irasionalitas Masyarakat
Media dan Isu Lingkungan
Propaganda Media Barat terhadap Islam
Jurnalisme Damai
Jurnalisme Infotainment
Televisi dan Budaya
Televisi, Kekerasan dan Anak-Anak
Etika Jurnalistik Televisi
Komunikasi Pendidikan
Regulasi Telekomunikasi
Film dan Identitas
Etika periklanan
Semiotika Grafiti
****
Selain mata kuliah Komunikasi Kontemporer, pada semester pendek tahun ajaran 2007/2008 ini, saya mengampu mata kuliah Perkembangan Teknologi Komunikasi. Mata Kuliah ini membahas perkembangan teknologi komunikasi dari perspektif ilmu komunikasi. Objek material ilmu komunikasi adalah masyarakat dan media, jadi mata kuliah ini akan menitikberatkan perhatian pada eksplorasi konsep-konsep dasar, konsekuensi sosial dan konsekuensi kultural teknologi komunikasi.
Selain mata kuliah Komunikasi Kontemporer, pada semester pendek tahun ajaran 2007/2008 ini, saya mengampu mata kuliah Perkembangan Teknologi Komunikasi. Mata Kuliah ini membahas perkembangan teknologi komunikasi dari perspektif ilmu komunikasi. Objek material ilmu komunikasi adalah masyarakat dan media, jadi mata kuliah ini akan menitikberatkan perhatian pada eksplorasi konsep-konsep dasar, konsekuensi sosial dan konsekuensi kultural teknologi komunikasi.
Seperti halnya, mata kuliah Komunikasi Kontemporer, mata kuliah ini menekankan keaktifan mahasiswa dalam belajar. Student Centered Learning sudah sewajarnya dipraktekkan dalam pembelajaran di perguruan tinggi. Dosen bukan sumber segala ilmu, tetapi hanya fasilitator yang menjadi teman diskusi mahasiswa. Perkembangan Teknologi Komunikasi sangat memungkinkan mahasiswa untuk menggali sumber belajar seluas mungkin, lebih dari sekedar hasil catatan atau copy-an via USB file power point bahan kuliah dosen.
Hakekat Teknologi Komunikasi
Sejarah Perkembangan Teknologi Komunikasi
Mediamorfosis dan Pengaruh Kemajuan Teknologi terhadap Media Komunikasi
Konsep dan Aplikasi dalam Cyberspace
Konsekuensi Sosial Teknologi Komunikasi
Konsekuensi Kultural Teknologi Komunikasi
Agenda Penelitian Teknologi Komunikasi
Beberapa referensi yang bisa menjadi alternatif rujukan mata kuliah ini adalah :
Abrar, Ana Nadhya, 2003, Teknologi Komunikasi, Perspektif Ilmu Komunikasi, LESFI, Yogyakarta
Fidler, Roger, 2003, Mediamorfosis : Memahami Media Baru, Bentang, Yogyakarta
Holmes, David, 2005, Communication Theory, Media, Technology, Society, Sage, London
Pavlik, John V, 1996, New Media Technology, Cultural and Commercial Perspectives, Allyn and Bacon, Boston
Abrar, Ana Nadhya, 2003, Teknologi Komunikasi, Perspektif Ilmu Komunikasi, LESFI, Yogyakarta
Fidler, Roger, 2003, Mediamorfosis : Memahami Media Baru, Bentang, Yogyakarta
Holmes, David, 2005, Communication Theory, Media, Technology, Society, Sage, London
Pavlik, John V, 1996, New Media Technology, Cultural and Commercial Perspectives, Allyn and Bacon, Boston
(***Subhan Afifi)
10 Pemenang Hibah Penelitian Pemkot Jogja
7:01:00 AM Diposting oleh Subhan Afifi
17/06/2008 08:13:58 YOGYA (KR) - Sepuluh judul proposal penelitian terpilih untuk didanai dari program hibah penelitian Pemkot Yogya tahun 2008. Proposal terpilih tersebut diambil dari 2 tema yang telah ditetapkan yaitu: Kota Yogyakarta sebagai kota pendidikan berkualitas dengan dukungan sumber daya manusia yang profesional dan Kota Yogyakarta sebagai kota yang sehat dan nyaman huni dengan pengelolaan fasilitas publik yang memadai.
Ketua Tim Penilai Drs Ana Nadhya Abrar MES, Senin (16/6) mengatakan, judul proposal yang dinyatakan terpilih ini masing-masing memiliki catatan khusus dari tim seleksi Jaringan Penelitian (Jarlit) untuk diperbaiki, agar bisa dilaksanakan secara terencana, operasional dan menghasilkan rekomendasi yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan Pemkot. "Proposal yang terpilih harus dipresentasikan di hadapan tim Jarlit dan instansi terkait di lingkungan Pemkot pada Sabtu (21/6) mendatang di Bappeda kota," ujarnya.
Berikut ke-10 judul proposal tersebut yaitu 'Menghargai perbedaan individu murid; studi kasus di SD Tumbuh' (Ariska Setyawati SE), 'Prospek dan tantangan lulusan kejar paket dalam dunia kerja' (Syariful Hidayatullah SSos). 'Efektivitas interaksi guru dan siswa yang humanis terhadap manajemen di kelas SD di Kota Yogyakarta' (Dra S Hafsah Budiargiati SPsi MSi). 'Pengelolaan pendidikan anak usia dini RW di Kelurahan Keparakan Kota Yogyakarta' (Hartanti MPd).
Selain itu, 'Model pendidikan Islam terpadu; studi penyelenggaraan pendidikan di asrama pelajar pondok pesantren Nurul Ummah Kota Yogyakarta' (Fuad Hasyim SS). 'Analisis Yogyakarta sebagai kota pendidikan berbasis pendidikan vokasional' (Crisantus Eko Setiawan SSos MM). 'Pemberdayaan perpustakaan sekolah sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikan dalam rangka mewujudkan Kota Yogyakarta sebagai kota pendidikan' (Nur Halim Sumirat SPdI).
'Pojok pintar di Halte Bis Trans Jogja; upaya meningkatkan kualitas layanan transportasi publik dan minat baca masyarakat Kota Yogyakarta' (Subhan Afifi MSi).
'Tingkat pengetahuan dan pola konsumsi pangan anak usia sekolah di wilayah Kota Yogyakarta ditinjau dari aspek mutu gizi serta keamanan pangan' (Ina Karlina SKepNs). 'Penataan ruang kawasan permukiman di bantaran kali Code; upaya mewujudkan kota sehat dan nyaman huni dengan dukungan masyarakat madani'
(Rini Rachmawati SSi MT). (Ret)-z
Sumber :
Berlibur Ke Perpustakaan
1:42:00 PM Diposting oleh Subhan Afifi
Seorang ibu keluar menggandeng anak balitanya dengan wajah ceria dari sebuah gedung yang menjulang ke langit. Di dalam gedung itu, ada sebuah ruangan besar yang asri nan nyaman. Anak-anak bisa “jungkir balik” di situ, atau melahap aneka buku bergizi senikmat mereka mengunyah pizza. Para orang tua pun tampak serius dengan buku-buku dan sumber bacaan digital. Ruang bacaan dan koleksi buku-buku di lantai dasar itu memang khusus untuk anak-anak dan parenting. Ya, saya sedang berada di National Library. Milik sebuah negeri yang mungil : Singapore. Sebuah perpustakaan terpadu yang terdiri dari Central Lending Library, the Lee Kong Chian Reference Library, dan juga Drama Centre.
Saya terkesan, betapa mereka sangat menghargai buku dan para pencinta buku. Tengoklah bagaimana para petugasnya melayani para pengunjung dengan ramah dan sigap. Ketika saya menjelajahi “The Lee Kong Chian Reference Library” dari lantai 7-13, petugas jaga selalu siap menjawab pertanyaan bahkan mengantar saya menemukan buku di raknya, setelah mengecek di komputer katalog. Di lantai 11, saya mencari sebuah buku berjudul “Future Television”. Petugasnya meminta saya menunggu 10 menit. “Buku ini, ada di bagian yang lain, akan saya ambilkan,” katanya. Tepat 10 menit, Ia datang dengan buku berwarna cerah. “Apakah buku ini yang anda cari ?” katanya dalam bahasa Inggris berlogat China. Olala, rupanya buku itu adalah fiksi ilmiah anak-anak.
Singapore memang memberikan perhatian besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang disimbolkan melalui buku. Sayangnya, wisatawan Indonesia yang menjadi juara 1 pengunjung terbanyak di Singapore (tahun 2007 berjumlah 1.956.000 orang) tidak begitu berhasrat menjadikan National Library atau perpustakaan-perpustakaan lain sebagai objek kunjungan mereka. Mereka lebih tertarik membajiri Orchard Road dan tempat-tempat sejenis. Mereka adalah para penggila belanja alias shopoholics yang terkenal paling royal. Tak ada sama sekali kesan Indonesia adalah negara miskin, bila melihat orang-orang yang gila belanja itu di Singapore. Saya jadi teringat 3 orang permata hati saya yang sedang “gila” membaca : Azzam, Zulfa dan Nuha. Andai saja mereka berkesempatan mengunjungi negeri-negeri yang lain, termasuk Singapore, maka perpustakaan yang mencerdaskan, selayaknya menjadi objek kunjungan utama mereka. (InsyaAllah ya Nak.. suatu saat!).
Saya tak begitu tega membandingkan kondisi National Library Singapore itu dengan suasana perpustakaan nasional atau perpustakaan daerah kita yang berdebu. Hanya saja, saya bertanya dalam hati, sebegitu miskinkah kita? Apakah pemerintah atau tokoh-tokoh kita tak punya cukup uang untuk membangun perpustakaan yang layak dan nyaman, sehingga menjadi tujuan utama para orang tua dan anak untuk “menghabiskan waktu”? Sepertinya tidak. Buktinya,mereka mampu menggelontorkan banyak duit untuk klub sepak bola yang kalah melulu. Nyatanya, para pemimpin lebih suka menghabiskan uang milyaran rupiah untuk mengiklankan diri di televisi, atau memasang potret diri mereka, lengkap dengan slogan-slogan tanpa bukti di sepanjang jalan seantero negeri. Atau, tengok saja, seorang isteri gubernur di suatu daerah menghabiskan dana jutaan rupiah untuk memasang iklan di harian lokal, “hanya” untuk mengumumkan kepada publik kalau kucing kesayangannya hilang.
Masalahnya ada pada visi. Visi untuk jadi bangsa yang maju dan cerdas lewat buku yang belum kita punya. Budaya baca yang rendah sudah lama disadari, tapi tak pernah sungguh dicarikan solusi.Banyak sebenarnya yang bisa dilakukan semua pihak untuk mengejar ketertinggalan kita di dunia pustaka. Perpustakaan nasional, daerah atau yang dimiliki perguruan tinggi sudah saatnya direformasi menjadi pusat ilmu senyaman pusat-pusat perbelanjaan. Bukan sekedar asal ada. Uang-uang berlebih dari para orang kaya, pejabat, kandidat kepala daerah, tokoh parpol, atau siapapun, akan lebih bermakna bila diinfakkan ke perpustakaan, daripada “hangus” di jalan-jalan.
Dalam skala yang lebih kecil, kita bisa berbuat lebih banyak dengan perpustakaan-perpustakaan sekolah kita. Tak masalah rasanya, jika gedung sekolah terlihat sederhana, tetapi koleksi buku-buku perpustakaan bertambah setiap bulan. Ruangan dan fasilitasnya dibuat paling lengkap dan nyaman. Perpustakaan sudah selayaknya mendapat prioritas nomor satu. Para petugas perpustakaan juga bukan ala kadarnya tetapi pustakawan profesional yang benar-benar cinta buku.
Beruntung, sekolah anak saya, Azzam dan Zulfa, SDIT Hidayatullah Yogyakarta, telah menunjukkan itikad baiknya untuk menempatkan perpustakaan dalam posisi terhormat. Hampir setiap hari, Azzam dan Zulfa membawa buku baru dari perpustakaan sekolahnya. Kadang mereka harus diingatkan berkali-kali untuk ganti baju sekolah atau mandi, karena keasyikan membaca buku pinjaman begitu tiba di rumah. Menurut cerita mereka, perpustakaan sekolah selalu penuh pada jam-jam istirahat. Para siswa lebih memilih beristirahat dengan membaca, atau menonton koleksi audiovisual yang lumayan lengkap di perpustakaan yang sejuk.
Ketika saya pulang ke Jogja, saya menemukan sebuah perpustakaan umum yang nyaman di Jogja Utara : Taman Bacaan Natsuko Shioya. Saat kami sekeluarga mengunjunginya, kami semua langsung merasa betah. Koleksi bacaannya cukup lengkap. Gedung dan ruang bacaannya yang didisain nyaman dengan suasana alam yang menyegarkan, membuat anak-anak sulit diajak pulang. Rasanya waktu berlalu begitu cepat di situ. Perpustakaan itu bukan milik pemerintah, atau dibangun oleh tokoh nasional yang banyak uang. Tapi didedikasikan oleh Glen Goulds, asal Australia dan perusahaan tempatnya bekerja CV Satria Grafika untuk mengenang seorang turis Jepang yang dulunya sering berkunjung ke Yogyakarta, Natsuko Shioya. Nyamannya suasana perpustakaan itu membuat saya dan isteri tak lagi bingung merencanakan liburan anak-anak. Kami sudah menggagendakan Taman Bacaan Natsuko Shioya (dan mungkin perpustakaan-perpustakaan lain di kota kami) menjadi tujuan utama untuk mengisi liburan mendatang. Ya, InsyaAllah, kami akan berlibur ke perpustakaan. (***Subhan Afifi)
Ketika Penulis Blog Ditangkap
4:54:00 PM Diposting oleh Subhan Afifi

Tadi malam saya berdiskusi, tepatnya mewawancarai, pensyarah (dosen) jurusan Penyiaran dan Film, Universiti Malaya, Dr Abu Hassan Hasbullah, tentang prasangka budaya Indonesia-Malaysia di Media Massa.
Dua negara yang katanya serumpun itu sering menghadapi masalah dalam hubungan. Citra Indonesia, kalau kita membaca media Malaysia, memang tidak begitu sedap. Judul-judul berita seperti ini dapat ditemui : “Curiga dengan Koloni Indon”, “Indon Asingkan Diri, Enggan Campur Gaul Masyarakat Tempatan Meskipun ada Antara Mereka Miliki PR”, “Geng Indon Pecah Rumah Hujung Minggu Mengganas”, “Malaysia tidak Kemaruk Indon”, “Amah Indon Lega Tinggalkan LCCT”, “Indons and Filipinos Top In Crime”, “Indons Robbed, Woman Rapped”, “Warga Indon dituduh Samun Suri Rumah”, “Indon Cemar KL”, dan masih banyak lagi. KBRI KL telah melayangkan surat protes tentang penyebutan kata “Indon” yang bernada merendahkan itu, tapi tetap saja media masih menggunakannya, walau sudah agak berkurang. Di tataran masyarakat Malaysia, kata “Indon” sudah sangat popular untuk menyebut warga Indonesia dengan konotasi bermasalah.
Media Indonesia pun dikritik karena dianggap tidak berimbang dan sering menjelek-jelekkan Malaysia. “Media Seberang Tak Adil, Stesen TV Lapor Berita Negatif Mengenai Malaysia Setiap Hari”, begitu judul berita Harian Metro 13 September 2007. Begitulah !
Menurut Dr Abu yang juga jadi penyelia thesis PhD saya, citra negatif tentang orang Indonesia di media massa Malaysia atau sebaliknya, sudah sepatutnya dihentikan. Karena era ke-sejagad-an tak lagi menyediakan tempat bagi pertentangan karena hal yang “remeh-temeh”. Persoalan pencitraan negatif, khususnya tentang orang Indonesia di Malaysia, menurut Dr Abu, tak lepas dari aspek ekonomi politik media. “Media-media mainstream Malaysia dikendalikan partai berkuasa, UMNO. Citra seperti itu tak ditemui di media-media alternatif,” katanya. Dr Abu menjelaskan panjang lebar bahwa ke depan, berita-berita yang mencitrakan negatif Negara lain tak akan laku di Malaysia, karena masyarakat semakin kritis dan terbuka.
Dr Abu Hassan merupakan salah satu dosen UM yang sering bersuara kritis. Beliau sering diundang berbagai stasiun televisi di Malaysia untuk menjadi narasumber dalam talkshow-talkshow politik terkini. Komentar-komentar tajamnya terhadap penguasa, tak urung membuat ada salah seorang wartawan media Malaysia bertanya : “Apa tidak takut ditangkap?”. Dr Abu hanya tersenyum dan berkata : “Pak Lah berbeda dengan Mahathir, saya menyuarakan pendapat untuk perbaikan masyarakat,” katanya di belakang setir, ketika mengantarkan saya pulang ke kolej 11, pukul 11 malam.
Tadi pagi, saya terkejut membaca Berita Harian. Dua penulis blog, Raja Petra Raja Kamaruddin dan Syed Akbar Ali, ditangkap polisi karena menulis artikel yang dianggap menghasut di blog Malaysia-Today. Ini adalah kali pertama penulis blog didakwa berdasarkan Seksyen 4(1)(c) Akta Hasutan 1948 dengan hukuman maksimum denda RM5,000 atau penjara tiga tahun.
Dua negara yang katanya serumpun itu sering menghadapi masalah dalam hubungan. Citra Indonesia, kalau kita membaca media Malaysia, memang tidak begitu sedap. Judul-judul berita seperti ini dapat ditemui : “Curiga dengan Koloni Indon”, “Indon Asingkan Diri, Enggan Campur Gaul Masyarakat Tempatan Meskipun ada Antara Mereka Miliki PR”, “Geng Indon Pecah Rumah Hujung Minggu Mengganas”, “Malaysia tidak Kemaruk Indon”, “Amah Indon Lega Tinggalkan LCCT”, “Indons and Filipinos Top In Crime”, “Indons Robbed, Woman Rapped”, “Warga Indon dituduh Samun Suri Rumah”, “Indon Cemar KL”, dan masih banyak lagi. KBRI KL telah melayangkan surat protes tentang penyebutan kata “Indon” yang bernada merendahkan itu, tapi tetap saja media masih menggunakannya, walau sudah agak berkurang. Di tataran masyarakat Malaysia, kata “Indon” sudah sangat popular untuk menyebut warga Indonesia dengan konotasi bermasalah.
Media Indonesia pun dikritik karena dianggap tidak berimbang dan sering menjelek-jelekkan Malaysia. “Media Seberang Tak Adil, Stesen TV Lapor Berita Negatif Mengenai Malaysia Setiap Hari”, begitu judul berita Harian Metro 13 September 2007. Begitulah !
Menurut Dr Abu yang juga jadi penyelia thesis PhD saya, citra negatif tentang orang Indonesia di media massa Malaysia atau sebaliknya, sudah sepatutnya dihentikan. Karena era ke-sejagad-an tak lagi menyediakan tempat bagi pertentangan karena hal yang “remeh-temeh”. Persoalan pencitraan negatif, khususnya tentang orang Indonesia di Malaysia, menurut Dr Abu, tak lepas dari aspek ekonomi politik media. “Media-media mainstream Malaysia dikendalikan partai berkuasa, UMNO. Citra seperti itu tak ditemui di media-media alternatif,” katanya. Dr Abu menjelaskan panjang lebar bahwa ke depan, berita-berita yang mencitrakan negatif Negara lain tak akan laku di Malaysia, karena masyarakat semakin kritis dan terbuka.
Dr Abu Hassan merupakan salah satu dosen UM yang sering bersuara kritis. Beliau sering diundang berbagai stasiun televisi di Malaysia untuk menjadi narasumber dalam talkshow-talkshow politik terkini. Komentar-komentar tajamnya terhadap penguasa, tak urung membuat ada salah seorang wartawan media Malaysia bertanya : “Apa tidak takut ditangkap?”. Dr Abu hanya tersenyum dan berkata : “Pak Lah berbeda dengan Mahathir, saya menyuarakan pendapat untuk perbaikan masyarakat,” katanya di belakang setir, ketika mengantarkan saya pulang ke kolej 11, pukul 11 malam.
Tadi pagi, saya terkejut membaca Berita Harian. Dua penulis blog, Raja Petra Raja Kamaruddin dan Syed Akbar Ali, ditangkap polisi karena menulis artikel yang dianggap menghasut di blog Malaysia-Today. Ini adalah kali pertama penulis blog didakwa berdasarkan Seksyen 4(1)(c) Akta Hasutan 1948 dengan hukuman maksimum denda RM5,000 atau penjara tiga tahun.
Raja Petra ditangkap karena menulis artikel berjudul Let's Send The Altantuya Murderers To Hell dalam web malaysia-today.net (25/4/08). Sementara Syed Akbar, dikenakan tuduhan menghasut karena menulis komentar berjudul It Is Easy To Impress The Malays. Itu adalah komentar terhadap artikel Raja Petra berjudul Malaysia's Organised Crime Syndicate: All Roads Lead To Putrajaya.
Nah....
(**Subhan Afifi)
(**Subhan Afifi)