Pembicara Ketiga
6:51:00 PM Diposting oleh Subhan Afifi
Alhamdulillah, seminarnya berlangsung lancar. Ini pengalaman pertama saya, menghadapi audiens sekitar 600-an orang yang memenuhi GOR Bambu Runcing Temanggung. Biasanya paling banyak, saya bicara di depan peserta 200-an orang di ruang seminar. Seminar dengan tema "Pembelajaran yang Berempati dan Berorientasi pada Mentalitas Anak" itu dipandu sosok yang sangat dikenal publik Jateng-DIY, Den Baguse Ngarso, bintang acara "Mbangun Deso" yang sangat populer di TVRI Jogja dulu. Siang yang panas agak terdinginkan oleh aneka Gerr karena kepiawaian Den Baguse menarik perhatian audiens dengan guyonan-guyonan khasnya.
Pembicara pertama Prof Buchori (Rektor IKIP PGRI Jogja) lebih banyak bicara tentang profil guru profesional dan sertifikasi yang sedang heboh-hebohnya itu. Saya menyampaikan paparan tentang "Komunikasi Empatis dan Pendidikan yang Membangun Jiwa". Alhamdulillah, hingga paparan saya usai semua berjalan lancar.
Yang menarik buat saya saat itu adalah tampilnya seorang Kakek yang sangat bersemangat. Lengkap dengan peci bergaya pejuang kemerdekaan, Sang Kakek meminta izin untuk bertanya. Ketika Den Baguse memberikan kesempatan untuk berkomentar dalam 1 kalimat pendek tentang materi apa yang paling diingat atau paling menarik dari paparan saya, beliau menolak. "Saya ingin bertanya panjang, tidak cukup dengan satu kalimat, " katanya. Makanya Sang Kakek diberikan kesempatan pertama untuk bertanya pada sesi tanya jawab. Beliau bicara dengan sangat bersemangat. Lucunya, Kakek yang nampaknya pernah jadi tokoh di masa lalu itu, tidak bicara menghadap kami, para pembicara yang duduk di kursi depan, tapi menghadap peserta dan membelakangi kami. Rupanya, beliau ingin pidato, tidak ingin bertanya,hehe. Maka tergopoh-gopohlah seorang panitia lokal mendatangi moderator dan berbisik : "Wah Pak, maaf, kalau yang ini memang begitu, sulit berhentinya nanti..". Lantas Bicaralah sang Kakek itu panjang lebar, tidak begitu jelas apa intinya. Den Baguse Ngarso, yang biasanya piawai menggunakan kekuasaannya sebagai moderator, tak mampu menghentikan pidato panjang lebar itu. MC terpaksa turun tangan dengan mempersilahkan Sang Kakek mengakhiri pidatonya, persis ketika beliau mengambil jeda sejenak untuk menarik nafas. "Merdeka !" teriaknya sebagai kalimat penutup, walau mungkin belum puas, karena belum semua isi hati tertumpah ruah. Jadilah beliau pebicara ketiga.
Saya terenyuh dengan semangatnya. Tapi ada juga rasa geli di hati. Sambil membayangkan beberapa kejadian di Forum Seturan, pertemuan rutin kami di Jogja setiap Rabu Malam. Saat itu, ada juga Simbah Kakung yang selalu meminta kesempatan untuk memperkenalkan diri (padahal udah pada kenal) dan selalu ingin bertanya. Dan biasanya panjaaaaaang sekali. hehe. Rasa-rasanya beliau-beliau ini memang mencari forum untuk didengarkan. Sahabat saya, Budi Yuwono, secara berkelakar, menyebutkan bahwa itu adalah fenomena yang akan terjadi pada para trainer atau pembicara di masa depan, ketika tidak ada orang lagi yang mau mendengarkan. Mencari forum untuk bicara, nggak peduli orang mau dengar atau tidak. Hehe. "Hati-hati lu..!", kata Mas Budi. (***Subhan Afifi)
Media ikut Andil Kekisruhan Pemilu
11:40:00 PM Diposting oleh Subhan Afifi
Saya mencoba menyoroti andil media dalam kekisruhan Pemilu kali ini. Idialnya, media massa mampu menjadi watchdog dalam perhelatan politik besar semacam Pemilu dan Pilpres. Nyatanya, media belum sepenuhnya menjalankan fungsi itu. Media misalnya terjebak pada memberi perhatian lebih pada fenomena kontestasi, siapa menang-siapa kalah, atau persoalan-perosalan yang lebih sexy, semisal bakal capres-cawapres, dibanding memberi perhatian lebih pendidikan pemilih dan sosialisasi Pemilu. Dinamika internal partai politik, lengkap dengan intrik dan konflik para elitnya, lebih menarik perhatian media daripada persoalan faktual seputar persiapan Pemilu. seperti : kesiapan penyelenggara Pemilu, peluang pelanggaran, dan urusan Daftar Pemilih Tetap yang dibelakang hari terbukti menjadi masalah besar. Kisruh tentang Daftar Pemilih Tetap, jika dirunut, juga melibatkan kesalahan media yang tidak memberi porsi memadai untuk mengantisipasi. Pemberitaan media tentang Pemilu 2009, juga ditandai dengan masih minimnya pemberitaan tentang rekam jejak calog legislatif dan partai politik yang menjadi kontestan. Pemberitaan faktual tentang track record ini sangat diperlukan publik untuk menentukan pilihannya. Fenomena masyarakat yang jenuh dengan serbuan visual profil para caleg di jalan-jalan yang lebih banyak menyajikan realitas semu atau polesan, seharusnya ditutupi oleh pemberitaan media massa yang komprehensif tentang kandidat. Masyarakat dengan informasi lengkap akan sangat cerdas menentukan pilihannya. Media massa juga belum banyak menyajikan isu publik (persoalan riil) yang dihadapi masyarakat untuk menjadi agenda publik itu sendiri. Kutipan narasumber elit politik yang selalu menampilkan wacana dari sudutnya pandangnya sendiri masih lebih banyak ditampilkan, dibanding persoalan-persoalan yang riil terjadi. Fenomena publikasi hasil survey Pemilu 2009, di media juga menarik untuk dicermati. Menurut ketentuan, seharusnya pemberitaan media tentang jajak pendapat tersebut menyertakan orang atau partai yang mendanai, metodologi, dan kemungkinan kesalahan (margin of error). Hasilnya memperlihatkan, media massa tidak pernah menyebutkan siapa yang mendanai survei itu. Selain itu, pemberitaan tentang survey masih dominan yang tidak menyebutkan tujuan survey, dan tidak menyertakan metodologi. Penyelenggara survey memang selalu disebutkan. Fenomena itu memberikan catatan tersendiri dan berpeluang memunculkan prasangka negatif tentang hasil survey di masyarakat.
Khusus untuk televisi, saya memberikan apresiasi terhadap TV One dan Metro TV yang berani menyebut dirinya TV Pemilu dan Referensi Pemilu Indonesia. Program inovatif kedua televisi itu memberikan warna tersendiri bagi kemasan komunikasi politik di tanah air. Hanya saja, sesuai watak kapitalisme televisi yang harus berkompetisi demi rating dan ujung-ujungnya iklan, program-program menarik televisi tentang Pemilu harus dikritisi karena berpeluang mereduksi peran televisi sebagai pendidik masyarakat. Pogram-program yang mengemas dan mengelola citra partai dan kandidat lewat televisi yang terlalu menonjolkan aspek hiburan, sering melupakan esensi dari pendidikan politik. Beberapa program misalnya, menampilkan para caleg di televisi seolah peserta kuis yang harus tampil “heboh” dan kehilangan auranya sebagai politisi sejati dan negarawan. Sulit membandingkan presenter dengan narasumber, atau pelawak dengan politisi, karena semua didorong tampil memukau dan menghibur. Tentu saja agar tayangan itu berating tinggi dan meraup iklan sebanyak mungkin. Program-program Pemilu ditelevisi dikemas dengan orientasi yang sangat konsumtif dan vulgar, seringkali bahkan mengesampingkan etika. Substansi pendidikan politik rakyat terkaburkan oleh polesan hiburan yang tidak perlu. Persis dengan
Setiap seminar tentunya diharapkan memberikan pencerahan kepada para pesertanya. Saya nggak tahu, gimana respon peserta yang memenuhi ruang seminar FISIP UPN itu. Yang jelas, saya-nya yang sangat tercerahkan, karena bisa belajar dari pembicara lain yang top-top itu. Alhamdulillah.(***Subhan Afifi)
Seminar Posisi Media dalam Pemilu 2009
6:22:00 AM Diposting oleh Subhan Afifi
Konsentrasi Media dan Jurnalisme Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UPN "Veteran" Yogyakarta akan menggelar Seminar "Posisi Media dalam Pemilu 2009", Sabtu, 2 Mei 2009, jam 08.00-12.00 WIB, di Ruang Seminar FISIP UPN, Jl Babarsari No.2 Yogyakarta. Seminar akan menghadirkan pembicara : Dr Kuskrido Ambardi (Direktur Riset LSI), Subhan Afifi, M.Si (Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi UPN), Ketua KPU Yogyakarta, dan Staf Ahli Menteri Kominfo. Pendaftaran peserta dapat menghubungi jurusan Ilmu Komunikasi, telp : (0274) 485268. (***)
Asyiknya Rafting di Kali Progo
9:19:00 AM Diposting oleh Subhan Afifi
Beruntung, pengurus jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UPN ”Veteran” Yogyakarta menyadari itu. Di bawah komando Ketua Jurusan, Basuki, M.Si, dan Sekretaris Jurusan, Agung Prabowo, M.Si, jurusan mengadakan acara refreshing buat keluarga besar komunikasi UPN, 24-25 April 2009. Kali ini tujuannya ke Magelang, tepatnya di hotel Puri Asri Magelang. Menginap semalam, makan-makan, ngobrol-ngobrol santai, melupakan rutinas kampus. Esoknya diisi dengan outbond dengan permainan yang lucu-lucu plus flying fox-nya. Selain itu, tentu saja pengalaman yang benar-benar baru buat kami semua : rafting. Menjajal jeram kali progo yang mengasyikkan. Saya jadi ingat masa lalu ketika suka bermain di sungai dengan gedebok pisang. Hehe.
Akhir Kontestasi yang Melelahkan itu..
10:46:00 AM Diposting oleh Subhan Afifi
Seorang Abang saya ikut bertarung melalui partai kecil untuk menjadi anggota legislatif sebuah kabupaten. Awalnya, ia tak pernah tertarik dan buta sama sekali dengan dunia politik. Profesinya murni wiraswasta. Hanya saja, kiprahnya di tengah masyarakatnya sangat nyata. Ia dikenal sebagai warga biasa tapi ditokohkan oleh sekitarnya, kerena ringan membantu dan menjadi rujukan berbagai persoalan. Ketika seorang pengurus partai baru datang ke wilayah itu untuk membuka Dewan Pengurus Cabang, warga sepakat merekomendasikan namanya. Sebagai pebisnis tulen, si Abang melihatnya sebagai tantangan, mungkin juga peluang. Sekaligus wahana untuk memperjuangkan idialisme. Sesuatu yang nyaris menjadi klise. Setelah pikir-pikir dan rembugan, resmilah ia menjadi ketua DPC partai itu. Maka, mulailah pekerjaan yang melelahkan dan menghabiskan uang itu. Bergerilya mencari simpatisan, menggerakkan tim sukses, konsolidasi partai, kampanye, hingga mengawasi pengikut agar tak dicaplok partai dan caleg lain, jelas-jelas melelahkan. Tapi, ia menikmatinya. ”Tak usah khawatir,” katanya suatu saat. Sebagai tokoh di masyarakatnya, tak sulit ia mendapatkan simpatisan. Hitung-hitungan di atas kertas tim suksesnya, Si Abang berkumis tebal ini, akan lolos jadi anggota legislatif di kabupatennya.
Hingga akhirnya, pesta itu benar-benar usai. Saatnya ”tamu pulang” dan ”cuci piring”. Di 3 TPS sekitar tempat tinggalnya, Ia menang telak. Tapi di TPS-TPS lain di daerah pemilihan yang telah digarap sekitar 6 bulan, dan telah berkomitmen mendukung dirinya, contrengan untuknya tak terlihat. Hanya beberapa. Suara dari orang-orang yang menurutnya sangat dekat juga raib entah kemana. ”Pendukung kami dilibas politik uang,” katanya ringan. Ketokohannya di Dapil itu memang menjadi perhatian dan target untuk ”dibereskan” oleh para pesaingnya. Ia yang hanya mengandalkan kedekatannya dengan masyarakat, dan tak ingin ber-money politic, walaupun mengaku habis ratusan juta rupiah untuk berbagai kegiatan kampanye dan konsolidasi, tak ayal harus merasakan pahitnya hasil kontestasi yang tak adil. Caleg yang tidak berkeringat, tak punya modal sosial di masyarakat, tapi punya uang, dan gencar melancarkan serangan fajar, siang, sore atau malam, akhirnya muncul jadi pemenang.
Ketika saya mengunjunginya beberapa minggu setelah Pemilu, Ia terlihat enteng-enteng saja. Hanya matanya yang merah dan berair. Tentu tak ada kaitannya dengan hasil Pemilu. Ini murni sakit mata alias ”belekan”. Yang pasti, tak ada yang harus di bawa ke RSJ. (***Subhan Afifi)