10 Pemenang Hibah Penelitian Pemkot Jogja
7:01:00 AM Diposting oleh Subhan Afifi
17/06/2008 08:13:58 YOGYA (KR) - Sepuluh judul proposal penelitian terpilih untuk didanai dari program hibah penelitian Pemkot Yogya tahun 2008. Proposal terpilih tersebut diambil dari 2 tema yang telah ditetapkan yaitu: Kota Yogyakarta sebagai kota pendidikan berkualitas dengan dukungan sumber daya manusia yang profesional dan Kota Yogyakarta sebagai kota yang sehat dan nyaman huni dengan pengelolaan fasilitas publik yang memadai.
Ketua Tim Penilai Drs Ana Nadhya Abrar MES, Senin (16/6) mengatakan, judul proposal yang dinyatakan terpilih ini masing-masing memiliki catatan khusus dari tim seleksi Jaringan Penelitian (Jarlit) untuk diperbaiki, agar bisa dilaksanakan secara terencana, operasional dan menghasilkan rekomendasi yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan Pemkot. "Proposal yang terpilih harus dipresentasikan di hadapan tim Jarlit dan instansi terkait di lingkungan Pemkot pada Sabtu (21/6) mendatang di Bappeda kota," ujarnya.
Berikut ke-10 judul proposal tersebut yaitu 'Menghargai perbedaan individu murid; studi kasus di SD Tumbuh' (Ariska Setyawati SE), 'Prospek dan tantangan lulusan kejar paket dalam dunia kerja' (Syariful Hidayatullah SSos). 'Efektivitas interaksi guru dan siswa yang humanis terhadap manajemen di kelas SD di Kota Yogyakarta' (Dra S Hafsah Budiargiati SPsi MSi). 'Pengelolaan pendidikan anak usia dini RW di Kelurahan Keparakan Kota Yogyakarta' (Hartanti MPd).
Selain itu, 'Model pendidikan Islam terpadu; studi penyelenggaraan pendidikan di asrama pelajar pondok pesantren Nurul Ummah Kota Yogyakarta' (Fuad Hasyim SS). 'Analisis Yogyakarta sebagai kota pendidikan berbasis pendidikan vokasional' (Crisantus Eko Setiawan SSos MM). 'Pemberdayaan perpustakaan sekolah sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikan dalam rangka mewujudkan Kota Yogyakarta sebagai kota pendidikan' (Nur Halim Sumirat SPdI).
'Pojok pintar di Halte Bis Trans Jogja; upaya meningkatkan kualitas layanan transportasi publik dan minat baca masyarakat Kota Yogyakarta' (Subhan Afifi MSi).
'Tingkat pengetahuan dan pola konsumsi pangan anak usia sekolah di wilayah Kota Yogyakarta ditinjau dari aspek mutu gizi serta keamanan pangan' (Ina Karlina SKepNs). 'Penataan ruang kawasan permukiman di bantaran kali Code; upaya mewujudkan kota sehat dan nyaman huni dengan dukungan masyarakat madani'
(Rini Rachmawati SSi MT). (Ret)-z
Sumber :
Berlibur Ke Perpustakaan
1:42:00 PM Diposting oleh Subhan Afifi
Seorang ibu keluar menggandeng anak balitanya dengan wajah ceria dari sebuah gedung yang menjulang ke langit. Di dalam gedung itu, ada sebuah ruangan besar yang asri nan nyaman. Anak-anak bisa “jungkir balik” di situ, atau melahap aneka buku bergizi senikmat mereka mengunyah pizza. Para orang tua pun tampak serius dengan buku-buku dan sumber bacaan digital. Ruang bacaan dan koleksi buku-buku di lantai dasar itu memang khusus untuk anak-anak dan parenting. Ya, saya sedang berada di National Library. Milik sebuah negeri yang mungil : Singapore. Sebuah perpustakaan terpadu yang terdiri dari Central Lending Library, the Lee Kong Chian Reference Library, dan juga Drama Centre.
Saya terkesan, betapa mereka sangat menghargai buku dan para pencinta buku. Tengoklah bagaimana para petugasnya melayani para pengunjung dengan ramah dan sigap. Ketika saya menjelajahi “The Lee Kong Chian Reference Library” dari lantai 7-13, petugas jaga selalu siap menjawab pertanyaan bahkan mengantar saya menemukan buku di raknya, setelah mengecek di komputer katalog. Di lantai 11, saya mencari sebuah buku berjudul “Future Television”. Petugasnya meminta saya menunggu 10 menit. “Buku ini, ada di bagian yang lain, akan saya ambilkan,” katanya. Tepat 10 menit, Ia datang dengan buku berwarna cerah. “Apakah buku ini yang anda cari ?” katanya dalam bahasa Inggris berlogat China. Olala, rupanya buku itu adalah fiksi ilmiah anak-anak.
Singapore memang memberikan perhatian besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang disimbolkan melalui buku. Sayangnya, wisatawan Indonesia yang menjadi juara 1 pengunjung terbanyak di Singapore (tahun 2007 berjumlah 1.956.000 orang) tidak begitu berhasrat menjadikan National Library atau perpustakaan-perpustakaan lain sebagai objek kunjungan mereka. Mereka lebih tertarik membajiri Orchard Road dan tempat-tempat sejenis. Mereka adalah para penggila belanja alias shopoholics yang terkenal paling royal. Tak ada sama sekali kesan Indonesia adalah negara miskin, bila melihat orang-orang yang gila belanja itu di Singapore. Saya jadi teringat 3 orang permata hati saya yang sedang “gila” membaca : Azzam, Zulfa dan Nuha. Andai saja mereka berkesempatan mengunjungi negeri-negeri yang lain, termasuk Singapore, maka perpustakaan yang mencerdaskan, selayaknya menjadi objek kunjungan utama mereka. (InsyaAllah ya Nak.. suatu saat!).
Saya tak begitu tega membandingkan kondisi National Library Singapore itu dengan suasana perpustakaan nasional atau perpustakaan daerah kita yang berdebu. Hanya saja, saya bertanya dalam hati, sebegitu miskinkah kita? Apakah pemerintah atau tokoh-tokoh kita tak punya cukup uang untuk membangun perpustakaan yang layak dan nyaman, sehingga menjadi tujuan utama para orang tua dan anak untuk “menghabiskan waktu”? Sepertinya tidak. Buktinya,mereka mampu menggelontorkan banyak duit untuk klub sepak bola yang kalah melulu. Nyatanya, para pemimpin lebih suka menghabiskan uang milyaran rupiah untuk mengiklankan diri di televisi, atau memasang potret diri mereka, lengkap dengan slogan-slogan tanpa bukti di sepanjang jalan seantero negeri. Atau, tengok saja, seorang isteri gubernur di suatu daerah menghabiskan dana jutaan rupiah untuk memasang iklan di harian lokal, “hanya” untuk mengumumkan kepada publik kalau kucing kesayangannya hilang.
Masalahnya ada pada visi. Visi untuk jadi bangsa yang maju dan cerdas lewat buku yang belum kita punya. Budaya baca yang rendah sudah lama disadari, tapi tak pernah sungguh dicarikan solusi.Banyak sebenarnya yang bisa dilakukan semua pihak untuk mengejar ketertinggalan kita di dunia pustaka. Perpustakaan nasional, daerah atau yang dimiliki perguruan tinggi sudah saatnya direformasi menjadi pusat ilmu senyaman pusat-pusat perbelanjaan. Bukan sekedar asal ada. Uang-uang berlebih dari para orang kaya, pejabat, kandidat kepala daerah, tokoh parpol, atau siapapun, akan lebih bermakna bila diinfakkan ke perpustakaan, daripada “hangus” di jalan-jalan.
Dalam skala yang lebih kecil, kita bisa berbuat lebih banyak dengan perpustakaan-perpustakaan sekolah kita. Tak masalah rasanya, jika gedung sekolah terlihat sederhana, tetapi koleksi buku-buku perpustakaan bertambah setiap bulan. Ruangan dan fasilitasnya dibuat paling lengkap dan nyaman. Perpustakaan sudah selayaknya mendapat prioritas nomor satu. Para petugas perpustakaan juga bukan ala kadarnya tetapi pustakawan profesional yang benar-benar cinta buku.
Beruntung, sekolah anak saya, Azzam dan Zulfa, SDIT Hidayatullah Yogyakarta, telah menunjukkan itikad baiknya untuk menempatkan perpustakaan dalam posisi terhormat. Hampir setiap hari, Azzam dan Zulfa membawa buku baru dari perpustakaan sekolahnya. Kadang mereka harus diingatkan berkali-kali untuk ganti baju sekolah atau mandi, karena keasyikan membaca buku pinjaman begitu tiba di rumah. Menurut cerita mereka, perpustakaan sekolah selalu penuh pada jam-jam istirahat. Para siswa lebih memilih beristirahat dengan membaca, atau menonton koleksi audiovisual yang lumayan lengkap di perpustakaan yang sejuk.
Ketika saya pulang ke Jogja, saya menemukan sebuah perpustakaan umum yang nyaman di Jogja Utara : Taman Bacaan Natsuko Shioya. Saat kami sekeluarga mengunjunginya, kami semua langsung merasa betah. Koleksi bacaannya cukup lengkap. Gedung dan ruang bacaannya yang didisain nyaman dengan suasana alam yang menyegarkan, membuat anak-anak sulit diajak pulang. Rasanya waktu berlalu begitu cepat di situ. Perpustakaan itu bukan milik pemerintah, atau dibangun oleh tokoh nasional yang banyak uang. Tapi didedikasikan oleh Glen Goulds, asal Australia dan perusahaan tempatnya bekerja CV Satria Grafika untuk mengenang seorang turis Jepang yang dulunya sering berkunjung ke Yogyakarta, Natsuko Shioya. Nyamannya suasana perpustakaan itu membuat saya dan isteri tak lagi bingung merencanakan liburan anak-anak. Kami sudah menggagendakan Taman Bacaan Natsuko Shioya (dan mungkin perpustakaan-perpustakaan lain di kota kami) menjadi tujuan utama untuk mengisi liburan mendatang. Ya, InsyaAllah, kami akan berlibur ke perpustakaan. (***Subhan Afifi)
Ketika Penulis Blog Ditangkap
4:54:00 PM Diposting oleh Subhan Afifi

Tadi malam saya berdiskusi, tepatnya mewawancarai, pensyarah (dosen) jurusan Penyiaran dan Film, Universiti Malaya, Dr Abu Hassan Hasbullah, tentang prasangka budaya Indonesia-Malaysia di Media Massa.
Dua negara yang katanya serumpun itu sering menghadapi masalah dalam hubungan. Citra Indonesia, kalau kita membaca media Malaysia, memang tidak begitu sedap. Judul-judul berita seperti ini dapat ditemui : “Curiga dengan Koloni Indon”, “Indon Asingkan Diri, Enggan Campur Gaul Masyarakat Tempatan Meskipun ada Antara Mereka Miliki PR”, “Geng Indon Pecah Rumah Hujung Minggu Mengganas”, “Malaysia tidak Kemaruk Indon”, “Amah Indon Lega Tinggalkan LCCT”, “Indons and Filipinos Top In Crime”, “Indons Robbed, Woman Rapped”, “Warga Indon dituduh Samun Suri Rumah”, “Indon Cemar KL”, dan masih banyak lagi. KBRI KL telah melayangkan surat protes tentang penyebutan kata “Indon” yang bernada merendahkan itu, tapi tetap saja media masih menggunakannya, walau sudah agak berkurang. Di tataran masyarakat Malaysia, kata “Indon” sudah sangat popular untuk menyebut warga Indonesia dengan konotasi bermasalah.
Media Indonesia pun dikritik karena dianggap tidak berimbang dan sering menjelek-jelekkan Malaysia. “Media Seberang Tak Adil, Stesen TV Lapor Berita Negatif Mengenai Malaysia Setiap Hari”, begitu judul berita Harian Metro 13 September 2007. Begitulah !
Menurut Dr Abu yang juga jadi penyelia thesis PhD saya, citra negatif tentang orang Indonesia di media massa Malaysia atau sebaliknya, sudah sepatutnya dihentikan. Karena era ke-sejagad-an tak lagi menyediakan tempat bagi pertentangan karena hal yang “remeh-temeh”. Persoalan pencitraan negatif, khususnya tentang orang Indonesia di Malaysia, menurut Dr Abu, tak lepas dari aspek ekonomi politik media. “Media-media mainstream Malaysia dikendalikan partai berkuasa, UMNO. Citra seperti itu tak ditemui di media-media alternatif,” katanya. Dr Abu menjelaskan panjang lebar bahwa ke depan, berita-berita yang mencitrakan negatif Negara lain tak akan laku di Malaysia, karena masyarakat semakin kritis dan terbuka.
Dr Abu Hassan merupakan salah satu dosen UM yang sering bersuara kritis. Beliau sering diundang berbagai stasiun televisi di Malaysia untuk menjadi narasumber dalam talkshow-talkshow politik terkini. Komentar-komentar tajamnya terhadap penguasa, tak urung membuat ada salah seorang wartawan media Malaysia bertanya : “Apa tidak takut ditangkap?”. Dr Abu hanya tersenyum dan berkata : “Pak Lah berbeda dengan Mahathir, saya menyuarakan pendapat untuk perbaikan masyarakat,” katanya di belakang setir, ketika mengantarkan saya pulang ke kolej 11, pukul 11 malam.
Tadi pagi, saya terkejut membaca Berita Harian. Dua penulis blog, Raja Petra Raja Kamaruddin dan Syed Akbar Ali, ditangkap polisi karena menulis artikel yang dianggap menghasut di blog Malaysia-Today. Ini adalah kali pertama penulis blog didakwa berdasarkan Seksyen 4(1)(c) Akta Hasutan 1948 dengan hukuman maksimum denda RM5,000 atau penjara tiga tahun.
Dua negara yang katanya serumpun itu sering menghadapi masalah dalam hubungan. Citra Indonesia, kalau kita membaca media Malaysia, memang tidak begitu sedap. Judul-judul berita seperti ini dapat ditemui : “Curiga dengan Koloni Indon”, “Indon Asingkan Diri, Enggan Campur Gaul Masyarakat Tempatan Meskipun ada Antara Mereka Miliki PR”, “Geng Indon Pecah Rumah Hujung Minggu Mengganas”, “Malaysia tidak Kemaruk Indon”, “Amah Indon Lega Tinggalkan LCCT”, “Indons and Filipinos Top In Crime”, “Indons Robbed, Woman Rapped”, “Warga Indon dituduh Samun Suri Rumah”, “Indon Cemar KL”, dan masih banyak lagi. KBRI KL telah melayangkan surat protes tentang penyebutan kata “Indon” yang bernada merendahkan itu, tapi tetap saja media masih menggunakannya, walau sudah agak berkurang. Di tataran masyarakat Malaysia, kata “Indon” sudah sangat popular untuk menyebut warga Indonesia dengan konotasi bermasalah.
Media Indonesia pun dikritik karena dianggap tidak berimbang dan sering menjelek-jelekkan Malaysia. “Media Seberang Tak Adil, Stesen TV Lapor Berita Negatif Mengenai Malaysia Setiap Hari”, begitu judul berita Harian Metro 13 September 2007. Begitulah !
Menurut Dr Abu yang juga jadi penyelia thesis PhD saya, citra negatif tentang orang Indonesia di media massa Malaysia atau sebaliknya, sudah sepatutnya dihentikan. Karena era ke-sejagad-an tak lagi menyediakan tempat bagi pertentangan karena hal yang “remeh-temeh”. Persoalan pencitraan negatif, khususnya tentang orang Indonesia di Malaysia, menurut Dr Abu, tak lepas dari aspek ekonomi politik media. “Media-media mainstream Malaysia dikendalikan partai berkuasa, UMNO. Citra seperti itu tak ditemui di media-media alternatif,” katanya. Dr Abu menjelaskan panjang lebar bahwa ke depan, berita-berita yang mencitrakan negatif Negara lain tak akan laku di Malaysia, karena masyarakat semakin kritis dan terbuka.
Dr Abu Hassan merupakan salah satu dosen UM yang sering bersuara kritis. Beliau sering diundang berbagai stasiun televisi di Malaysia untuk menjadi narasumber dalam talkshow-talkshow politik terkini. Komentar-komentar tajamnya terhadap penguasa, tak urung membuat ada salah seorang wartawan media Malaysia bertanya : “Apa tidak takut ditangkap?”. Dr Abu hanya tersenyum dan berkata : “Pak Lah berbeda dengan Mahathir, saya menyuarakan pendapat untuk perbaikan masyarakat,” katanya di belakang setir, ketika mengantarkan saya pulang ke kolej 11, pukul 11 malam.
Tadi pagi, saya terkejut membaca Berita Harian. Dua penulis blog, Raja Petra Raja Kamaruddin dan Syed Akbar Ali, ditangkap polisi karena menulis artikel yang dianggap menghasut di blog Malaysia-Today. Ini adalah kali pertama penulis blog didakwa berdasarkan Seksyen 4(1)(c) Akta Hasutan 1948 dengan hukuman maksimum denda RM5,000 atau penjara tiga tahun.
Raja Petra ditangkap karena menulis artikel berjudul Let's Send The Altantuya Murderers To Hell dalam web malaysia-today.net (25/4/08). Sementara Syed Akbar, dikenakan tuduhan menghasut karena menulis komentar berjudul It Is Easy To Impress The Malays. Itu adalah komentar terhadap artikel Raja Petra berjudul Malaysia's Organised Crime Syndicate: All Roads Lead To Putrajaya.
Nah....
(**Subhan Afifi)
(**Subhan Afifi)
Kun Fa Yakun di Kuala Lumpur
3:00:00 PM Diposting oleh Subhan Afifi
May Day lalu, saya beruntung berkesempatan ikut pengajiannya Ustadz Yusuf Mansur di KBRI Kuala Lumpur. Seperti biasanya, seperti yang kita lihat di layar televisi, Ustadz muda itu membawakan tema kekuatan sedekah. Yang membuat saya terkesan, adalah matematika sedekah yang ditawarkannya untuk menjadi solusi apapun masalah yang kita hadapi. Mulai dari kekurangan uang, terlilit hutang, sakit, ingin melanjutkan sekolah, tidak dikaruniai anak, hingga belum kunjung ketemu jodoh. Apapun!
Ustadz Yusuf Mansur tidak sekedar sedang berteori, tapi bercerita dari pengalaman nyata. Ia sendiri pernah terlilit hutang Rp. 1,4 Milyar, dan mampu diselesaikan dalam waktu 3 tahun. Demikian juga dengan testimoni para pendengar pengajiannya di berbagai kota. Inti dari matematika sedekah itu adalah : tidak akan berkurang harta yang kita sedekahkan, bahkan bertambah. Jika kita punya uang Rp.110.000, kita sedekahkan Rp.10.000 maka sisa uang itu bukan menjadi Rp.100.000, tetapi menjadi Rp 200.000. Ini karena Rp.10.000 yang disedekahkan itu akan dikembalikan Allah menjadi 10 x lipatnya (=Rp.100.000). Maka dengan rumus yang sama, jika uang Rp110.000 itu disedekahkan Rp.100.000, bukan bersisa Rp.10.000, tetapi menjadi Rp.1.010.000. Lagi-lagi karena, yang Rp100.000 itu dikalikan 10. Seorang mahasiswa yang diminta maju ke depan saat pengajian itu, dan hanya membawa uang RM 22, memilih untuk memberikan sedekah RM20, bukan RM2, karena menurut hitung-hitungan matematika sedekah, uangnya akan berlipat menjadi RM202.
Jadi, kata Ustadz, “kalau mau sedekah dan ingin masalah teratasi jangan tunggu uang sisa, karena pasti uang kita nggak bakalan ada sisanya.” Kalau ingin dapat rezeki besar bersedekahlah. Ingin motor atau mobil baru, bukan dengan mengajukan kredit, tapi bersedekahlah 10 %-nya dari total harganya, maka dengan izin Allah, rezeki itu akan datang. Punya utang tak lunas-lunas, sedekahkan 10 % dari total utang. Buat yang sedang nyari jodoh, Ustadz menyarankan untuk “menghitung” kira-kira suami yang diidam-idamkan bergaji berapa sebulan, kalikan 12 (setahun), tambahkan dengan biaya pernikahan dan lain-lain. Dan bersedekahlah 10 % dari totalnya, InsyaAllah suami dambaan segera datang. Mau naik haji cepat, infakkan 10 % dari Ongkos Naik Haji. Ringkasnya, masalah apapun InsyaAllah akan teratasi dengan rumus itu. Tentu saja semuanya harus dengan keyakinan.
Subhanallah, saya kagum dengan cara Ustadz itu menginspirasi dan menggerakkan banyak orang. Para jamaahpun ramai-ramai meletakkan uang sedekah di sorban yang digelar Ustadz, dan menulis komitmen jumlah Rp yang akan disumbangkan untuk program PROGRAM PEMBIBITAN PENGHAFAL ALQUR'AN - DAARUL QUR'AN, di Pondok pesantren Wisata Hati yang dipimpinnya.
Saya pun pulang dengan semangat baru. Hanya saja, saya masih bertanya-tanya, apakah sedekah yang kita berikan hanya didorong oleh hitung-hitungan matematis, “berapa” yang akan kembali lagi ke kita? Bagaimana kita menjaga keikhlasan? Di akhir pengajian, memang Ustadz menyampaikan bahwa apa yang dijelaskannya masih “Gigi Satu” : bersedekah karena ingin menyelesaikan masalah. Di tahap berikutnya, ada sedekah yang didorong karena syukur kepada Allah, karena cinta kepada Allah. Mungkin itu jawabannya. Alhamdulillah saya mendapat pencerahan hari itu.(***Subhan Afifi)
Ustadz Yusuf Mansur tidak sekedar sedang berteori, tapi bercerita dari pengalaman nyata. Ia sendiri pernah terlilit hutang Rp. 1,4 Milyar, dan mampu diselesaikan dalam waktu 3 tahun. Demikian juga dengan testimoni para pendengar pengajiannya di berbagai kota. Inti dari matematika sedekah itu adalah : tidak akan berkurang harta yang kita sedekahkan, bahkan bertambah. Jika kita punya uang Rp.110.000, kita sedekahkan Rp.10.000 maka sisa uang itu bukan menjadi Rp.100.000, tetapi menjadi Rp 200.000. Ini karena Rp.10.000 yang disedekahkan itu akan dikembalikan Allah menjadi 10 x lipatnya (=Rp.100.000). Maka dengan rumus yang sama, jika uang Rp110.000 itu disedekahkan Rp.100.000, bukan bersisa Rp.10.000, tetapi menjadi Rp.1.010.000. Lagi-lagi karena, yang Rp100.000 itu dikalikan 10. Seorang mahasiswa yang diminta maju ke depan saat pengajian itu, dan hanya membawa uang RM 22, memilih untuk memberikan sedekah RM20, bukan RM2, karena menurut hitung-hitungan matematika sedekah, uangnya akan berlipat menjadi RM202.
Jadi, kata Ustadz, “kalau mau sedekah dan ingin masalah teratasi jangan tunggu uang sisa, karena pasti uang kita nggak bakalan ada sisanya.” Kalau ingin dapat rezeki besar bersedekahlah. Ingin motor atau mobil baru, bukan dengan mengajukan kredit, tapi bersedekahlah 10 %-nya dari total harganya, maka dengan izin Allah, rezeki itu akan datang. Punya utang tak lunas-lunas, sedekahkan 10 % dari total utang. Buat yang sedang nyari jodoh, Ustadz menyarankan untuk “menghitung” kira-kira suami yang diidam-idamkan bergaji berapa sebulan, kalikan 12 (setahun), tambahkan dengan biaya pernikahan dan lain-lain. Dan bersedekahlah 10 % dari totalnya, InsyaAllah suami dambaan segera datang. Mau naik haji cepat, infakkan 10 % dari Ongkos Naik Haji. Ringkasnya, masalah apapun InsyaAllah akan teratasi dengan rumus itu. Tentu saja semuanya harus dengan keyakinan.
Subhanallah, saya kagum dengan cara Ustadz itu menginspirasi dan menggerakkan banyak orang. Para jamaahpun ramai-ramai meletakkan uang sedekah di sorban yang digelar Ustadz, dan menulis komitmen jumlah Rp yang akan disumbangkan untuk program PROGRAM PEMBIBITAN PENGHAFAL ALQUR'AN - DAARUL QUR'AN, di Pondok pesantren Wisata Hati yang dipimpinnya.
Saya pun pulang dengan semangat baru. Hanya saja, saya masih bertanya-tanya, apakah sedekah yang kita berikan hanya didorong oleh hitung-hitungan matematis, “berapa” yang akan kembali lagi ke kita? Bagaimana kita menjaga keikhlasan? Di akhir pengajian, memang Ustadz menyampaikan bahwa apa yang dijelaskannya masih “Gigi Satu” : bersedekah karena ingin menyelesaikan masalah. Di tahap berikutnya, ada sedekah yang didorong karena syukur kepada Allah, karena cinta kepada Allah. Mungkin itu jawabannya. Alhamdulillah saya mendapat pencerahan hari itu.(***Subhan Afifi)
Mediamorfosis Gaya Malaysia
1:30:00 PM Diposting oleh Subhan Afifi
Hawa politik Malaysia masih gerah, walau Pemilu telah cukup lama berselang. Keberhasilan partai oposisi (Partai Keadilan Rakyat-PKR, Partai Islam Se-Malaysia-PAS, dan Partai Aksi Demokratik-DAP) “mencuri” 82 kursi parlemen dari tangan koalisi berkuasa Barisan Nasional (BN), secara perlahan menghembuskan angin perubahan di negeri jiran itu. Kegagalan BN yang dimotori UMNO mempertahankan dominasinya di parlemen, menginspirasi banyak kalangan di Malaysia bahwa kekuasaan tak selamanya bertahan dan sakral. Keberhasilan oposisi menguasai 5 negara bagian (Perak, Penang, Kedah, Selangor, dan Kelantan), meruntuhkan mitos bahwa BN tak mungkin terkalahkan.
Efek “kemenangan” oposisi merambah ke berbagai sudut. Dunia kampus yang selama ini steril dari perbincangan politik, mulai dipanaskan oleh diskusi-diskusi dan kritik para mahasiswa dan pensyarah (dosen)nya. Masyarakat yang biasa apatis terhadap politik, semakin tertarik bicara politik. Yang menarik, media massa yang selama ini berada dalam pasungan kerajaan, mulai menunjukkan geliat perubahannya. Media Malaysia sedang bertransformasi dari alat komunikasi yang memberi legitimasi bagi kekuasaan, menjadi media yang berorientasi pada publik dan mendukung demokratisasi. Ada kecenderungan media massa Malaysia memanfaatkan perubahan politik untuk menuju sistem media yang lebih bebas, terbuka dan menjadi penopang demokrasi. Walaupun media cenderung menumpang arus perubahan, karena terlihat ketika pemerintah masih sangat kuat media tidak berbuat untuk perubahan itu, tetapi sejak Badawi kehilangan populeritasnya media memanfaatkan ketidakberuntungan itu.
Berdamai dengan Perubahan
Istilah mediamorfosis, dipopulerkan kembali oleh Roger Fidler (1997) untuk menggambarkan transformasi media komunikasi, yang biasanya ditimbulkan akibat hubungan timbal balik yang rumit antara berbagai kebutuhan yang dirasakan, tekanan persaingan dan politik, serta berbagai inovasi sosial dan teknologi. Istilah mediamorfosis memang lebih banyak digunakan pada transformasi teknologi media. Media melakukan transformasi karena kekuatan sosial, politik, ekonomi dan kultural. Dalam konteks Malaysia, media telah bertransformasi dari sisi isi (content) pemberitaan, dengan mengambil momentum Pemilu Malaysia ke-12, Maret lalu.
Sebelum Pemilu ke-12, media massa Malaysia tak ubahnya media massa kita di era Orde Baru. Koran, majalah, tabloid, televisi dan radio yang beredar tak lebih dari corong penguasa dengan nada seragam. Saya pernah terjebak dalam demonstrasi besar-besaran yang digalang kaum oposisi di pusat kota Kuala Lumpur, November tahun lalu. Saat itu demonstrasi yang menyuarakan Pemilu Bersih sungguh menjadi pemandangan yang sangat baru di Malaysia. Sebelumnya, hampir tak pernah ditemui demonstrasi besar-besaran di jalan-jalan utama Kuala Lumpur. Demonstrasi a la Indonesia yang menjadi pemandangan biasa di tempat kita tak mungkin ditemui di Malaysia. Saat itu, di tengah guyuran hujan lebat ribuan orang berpakaian “kuning-kuning” meneriakkan takbir dengan sisipan slogan-slogan anti pemerintah. Walaupun disemprot water canon dan gas air mata mereka tetap bersemangat menumpahkan aspirasinya. Saya yang memang tak berniat ikut demonstrasi, segera berlalu dan memilih untuk menyaksikan tayangan “aneh tapi nyata” itu di televisi. Hasilnya sungguh mengecewakan. Televisi memang menyiarkan aksi yang digalang Anwar Ibarahim dan tokoh oposisi lainnya itu. Tetapi, yang muncul hanya suara dan foto pejabat kepolisian yang menyebutkan bahwa demonstrasi berjalan biasa-biasa saja, dan situasi aman terkendali. Khas pejabat. Tanpa secuilpun gambar yang memperlihatkan situasi yang sebenarnya. Sangat kontras apa yang saya lihat langsung dengan realitas yang tampak di media. Teknologi komunikasi sudah sangat maju di Malaysia, tapi tidak untuk tayangan anti pemerintah.
Pengalaman kecil itu menjadi contoh riil untuk mengambarkan kondisi media Malaysia selama ini. Media cetak dan elektronik benar-benar dikuasai Barisan Nasional. Stasiun Televisi RTM1 dan RTM2 yang seharusnya dikonsep sebagai televisi publik menjadi alat propaganda Barisan Nasional dalam arti yang sebenar-benarnya. Koran-koran utama hanya berisi good news versi penguasa. Tanpa sedikitpun celah untuk perbedaan pendapat. Berita-berita yang berpeluang menimbulkan “gejolak”, dan merugikan kepentingan nasional tak mungkin ditemui. Ketika media kita mem blow up berbagai persoalan yang menyangkut hubungan Indonesia-Malaysia, mulai dari dari kasus Ambalat, Penganiayaan TKW, penganiayaan wasit karate, klaim lagu Rasa Sayange, hingga isu Askar Wathoniyah, media Malaysia adem ayem saja. Alhasil, rakyat Malaysia bahkan merasa tak tahu menahu dengan persoalan-persoalan itu. Masyarakat kelas menengah dan terpelajar Malaysia lebih memilih internet sebagai sumber informasi, daripada media massa tradisional. Sensor berlebihan terhadap media, telah berdampak negatif terhadap pencitraan Barisan Nasional. Walaupun secara tekstual berita-berita media memuji-muji penguasa, tetapi masyarakat Malaysia sudah semakin cerdas untuk menyadari konteks atau “berita di balik berita”.
Hingga menjelang Pemilu, media Malaysia masih menunjukkan wataknya yang telah menahun. Di masa kampanye, media-media utama hanya milik barisan nasional. Partai oposisi tak memiliki akses sama sekali untuk diakses media. Mereka hanya berkampanye melalui media internal, selain ceramah umum dan internet.
Setelah hasil Pemilu di umumkan, dan hasilnya cukup mengagetkan masyarakat Malaysia, media massa mulai berdamai dengan perubahan itu. Stasiun-stasiun televisi mulai memberikan ruang bagi kritik dari tokoh-tokoh yang berseberangan dengan Barisan Nasional. Media cetak dan elektronik yang sebelumnya cenderung memuji-muji pemerintah, berbalik mengecam dengan menghadirkan analisis yang menunjukkan kebobrokan penguasa. Mahathir yang mengkritik keras dan menyerukan pengunduran diri Perdana Menteri Badawi mendapatkan tempat yang luas di media massa. Kondisi yang tak pernah terjadi sebelumnya.
Setelah Pemilu ke-12, kesan perubahan orientasi pemberitaan segera terasa bila kita membaca koran-koran utama Malaysia seperti Utusan, Berita Harian, The Star, dan New Straits Time. Koran-koran itu yang sebelumnya berposisi sebagai mitra loyal pemerintah, mulai berani menurunkan berita atau opini yang berbalik menyerang pemerintah. Televisi juga semakin berani menampilkan wacana yang beragam. Talkshow-talkshow kritis sudah mulai menghiasi televisi. Pengamat-pengamat politik juga semakin berani mengkritisi pemerintah.
Mediamorfosis, walaupun masih malu-malu, sedang terjadi di negeri jiran itu. Media memang belum mengalami perubahan yang radikal, tetapi transformasi yang perlahan itu dianggap telah memberi kontribusi berarti bagi transisi demokrasi di Malaysia. (Subhan Afifi***)